Pages

Minggu, 29 Maret 2015

Late Post


Aku mencari-cari cara untuk tidak memikirkanmu. Aku mencari-cari cara untuk mengusir kesepian ini. Tapi seberapapun cara yang ku coba aku tetap tidak bisa mengusir kau dari hatiku. Kau berlari kesana kemari seakan hatiku adalah tempat yang luas untuk bermain. Kau sudah memblokade pintu hatiku dari hati lain yang mencoba untuk masuk.  Kau menguasai semuanya. Setiap sudut hatiku tidak lagi kau sisakan tempat untuk hal lain. Kecuali untuk Tuhan dan keluargaku, kau tidak mengusiknya. Tapi kau menguasai bagian lainnya. Seberapapun aku mencoba untuk mengusirmu. Kau tetap besikukuh berdiam disana. Bahkan ruang hatiku yang dulu tempatku menyimpan namanya, kau mendobraknya dan melabeli itu wilayahmu. Kau egois. Bagaimana bisa kau tidak menyisakan tempat sedikitpun. Aku benci harus berkata ini tapi kau sendiri tidak sadar bahwa kau lah satu-satunya orang yang menjajah hatiku. Bagaimana lagi aku harus menyadarkanmu. Jika kau ragu tolong pergi saja biarkan hatiku seperti sebelumnya.


Aku mencari-cari kebahagiaan. Yang kukira akan ku temukan jika aku tetap bersamamu. lalu aku sadar aku sendiri tidak paham arti kebahagiaan. Jadi bagaimana mungkin aku bisa menemukannya.  Mungkin aku menemukannya pada cinta. Aku mencarinya dan mengira itu kamu. Tapi nyatanya aku hanya salah sangka. Kamu bukan keduanya. Kamu yang ku kira adalah cinta dan kebahagiaan itu salah. Kamu adalah harapan. Harapan yang ku kira itu cinta dan kebahagiaan. Aku terlalu banyak mencari dan mengira-ngira. Dan nyatanya aku hanya menemukan kekosongan. Kekosongan yang sepi. Sepi yang ku rasa mati. Inikah yang ku cari? Kenapa aku berbelok kesana kemari, terbang kesana kemari, membuatku tidak jelas seperti ini. Tidak hanya itu, membuatku lelah setengah mati.  

Kamis, 12 Maret 2015

For Your Graduation


Halo! Finally setelah sekian lama berjuang dengan tugas akhirmu yang begitu riweuh saat ini tiba juga. Saat yang telah lama ditunggu oleh kedua orangtuamu. Momen dimana akhir dari segala perjuanganmu selama 5 tahun. Namun ini bukanlah akhir sayang, ini awal dari dunia yang sesungguhnya. Semangatlah! Bahagialah! :)

Sebenarnya di hari bahagiamu ini justru aku merasa sangat sedih. Karena aku tidak mampu berada disana melihat kau mengenakan toga :”) melihat kau tersenyum bahagia. Tapi biarlah, disini aku berbahagia untukmu. Aku sangat bahagia akhirnya kau bisa mengakhiri masa studimu. Akhirnya kau bisa mulai melangkah ke realita kehidupan sebenarnya. Akhirnya kau tiba di dunia dewasa yang sesungguhnya. Dimana semua keputusan yang kau ambil sangat menentukan hidupmu. Sejak kita bersama, sejak aku tahu kau memiliki rasa yang sama sepertiku. Sepertinya mulai muncul harapan-harapan baru, angan yang ingin ku wujudkan bersamamu. Tapi ternyata aku tidak berdaya untuk membuatnya menjadi nyata. Aku iri dengan keluargamu. Karena mereka hadir disana. Melihatmu dengan bangga dan bahagia. Sedangkan aku disini hanya bisa menyimpan kebahagiaan itu sendiri. Sejak awal bersamamu sudah lama kuimpikan hari ini datang, dimana aku bisa menjadi salah satu alasanmu untuk lebih bahagia di hari ini. Dimana aku bisa menyimpan momen itu di dalam sebuah gambar dan menjadikannya kenangan indah yang akan kita ceritakan ke anak-anak kita kelak, jika kita bersama. Tapi semuanya tidak seperti itu sekarang.  Aku ingat saat kau menceritakan masa lalumu. Saat kau begitu menyukai seorang wanita yang mungkin dia lebih cantik dan baik hati daripada aku dan mungkin lebih berarti untukmu saat itu. Pada hari kelulusannya kau mengarungi jarak yang cukup jauh untuk hadir di hari kelulusannya. Walaupun pada akhirnya berujung pada sebuah penolakan. Aku tidak mengerti jika pada saat itu kau bisa berjuang begitu keras untuk cintamu. Namun kenapa sekarang tidak seperti itu? Mungkin cinta yang kau perjuangkan saat itu lebih worth it daripada cinta kita saat ini ya :). Aku iri dengan perjuanganmu, andai aku bisa melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan untuknya saat itu. Tapi aku tidak seberdaya itu untuk berjuang sepertimu. Yang bisa ku lakukan hanyalah berdiam diri dan menumpahkan semuanya pada tulisan ini. Berharap semoga Tuhan menyampaikan rindu dan bahagiaku untukmu. Berharap kau bisa merasakannya tanpa harus ku katakan. Jika ternyata tidak bisa kau rasakan, tak mengapa. Aku disini akan selalu seperti ini.

Sayang aku ikhlas dengan rasaku. Meskipun jika pada akhirnya ini akan berakhir pada sebuah kesia-sian. Setidaknya aku sudah berusaha keras untuk mempertahankanmu. Aku memberimu cinta terbaik yang kupunya. Berharap kau bisa berbahagia dengan itu. Walaupun ternyata yang kau rasakan adalah kekecewaan dan luka. Karena ternyata cinta yang kumiliki tidak sempurna seperti yang kau inginkan. Maafkan aku akan ketidaksempurnaan ini. Mungkin ini pilihan yang terbaik untukmu meninggalkanku. Karena jika kau masih saja bersamaku kau akan terus selalu merasa tidak nyaman menjadi dirimu sendiri. Sekarang kau bisa lebih bebas dalam menjalani hidupmu. Jika saja kau masih tetap bersamaku mungkin aku hanya bisa menyusahkanmu dan merugikanmu. Karena mungkin di luar sana masih banyak wanita yang seribu kali lebih baik dariku yang lebih pantas bersanding denganmu. Jika saja kau masih tetap bersamaku mungkin kau hanya menyia-nyiakan waktumu. Karena aku tidaklah seperti yang selama ini kau angan dan inginkan dari sesosok wanita yang kau inginkan untuk berbagi hati denganmu.

Di dunia yang berputar di sekitarku ketahuilah hanyalah segelintir orang yang benar-benar menyayangi dan mencintaiku. Dulu aku kira kamu termasuk diantaranya. Namun ternyata aku salah menerka, maaf jika aku berani berharap lebih sejak kau mengisi hari-hariku. Maafkan aku. Karena memang inilah aku, selalu terlalu jujur akan sesuatu sampai tidak menyadari jika ternyata kejujuranku secara tidak langsung menyakitimu. Aku sempat percaya jika kau adalah salah satu dari segelintir orang di dunia ini yang benar-benar menyayangiku tanpa syarat. Karena itu aku selalu tidak ragu berbagi banyak hal denganmu. Karena aku sempat percaya kau akan selalu ada untukku tidak peduli seberapa keras yang aku jalani. Seberapa dunia membuatku merasa kecil dan tidak berarti. Karena dulu aku pernah merasa seperti itu saat bersamamu. Ah sudahlah awalnya aku ingin menulis tentang rasa bahagiaku akan kelulusanmu. Tapi yang ku tuliskan hanyalah seputar penyesalan yang tidak berguna. Hahaha sudah lupakan! Masih ingatkah kamu saat-saat kita bersama? Aku begitu cerewet mengomelimu untuk serius dengan tugas akhirmu. Sampai-sampai kau kesal sendiri dibuatnya :p Andai kamu tahu alasannya mengapa aku seperti itu, bukan bukan karena aku ingin cepat kau lamar. Karena aku menantikan hari seperti ini datang haha. Memang aku sudah memimpikan sejak lama untuk datang sebagai wanitamu dihari kelulusanmu ini. Ah sayang sekali impian itu tidak dapat terwujud. Tapi tak mengapa, aku tidak menyesali apapun dan aku tetap berbahagia untukmu. Karena itu lebih berbahagialah tanpaku. Once again happy graduation!





Selasa, 10 Maret 2015

Kasih Untukmu


Aku tidak mengerti berapa banyak lagi surat yang harus ku tuliskan agar perasaanku lega. Karena setiap kali aku mengingatmu, setiap kali kenangan-kenangan diantara kita merayapi pikiranku. Saat itu pula aku merasa sedih dan saat itu pula aku meneteskan air mata. Terlalu banyak hal indah diantara kita yang menjadi sia-sia karena kamu yang tidak dapat meruntuhkan egomu. Aku sudah melakukan segala cara yang ku bisa untuk memperbaiki apa yang telah retak diantara kita. Namun semua yang kau lakukan adalah menghempasku pergi. Kau yang berkali-kali bilang sudah lelah dengan kekuranganku dan kau ingin menyerah akan itu. Segala macam cara yang ku lakukan untuk membujukmu mengikuti kata hatimu. Tapi kau lebih suka memberi makan egomu. Sedangkan aku meruntuhkan ego dan harga diriku. Karena ketahuilah aku bukanlah orang yang pandai berdusta akan sesuatu. Benar aku menyayangimu benar aku masih mencintaimu. Aku memperjuangkan rasaku. Aku memperjuangkan kita. Namun ternyata yang ku lakukan sia-sia karena kau sendiri sudah tidak ingin memperbaiki kita. Aku memang memaksakannya karena ku pikir kamu masih memiliki rasa yang sama sepertiku. Akhirnya aku menyadarinya bahwa cinta bukanlah keterpaksaan.

Seberapa terluka dan marahnya, cinta sudah pasti akan kembali pulang tanpa mempedulikan ego dan gengsi. Karena memang begitulah cinta akan datang tanpa diminta atau dipaksa. Aku memperjuangkan kita karena ku pikir apa yang telah kita bangun selama ini tidaklah pantas jika runtuh begitu saja karena kita yang tidak dapat mengalahkan ego dalam diri. Namun aku yang terlalu memperjuangkannya dan kamu yang terlalu ingin mengakhiri semuanya. Pada akhirnya akulah yang berakhir terluka. Maka dari itu aku mengikhlaskan semuanya. Aku merelakan semuanya kamu, cinta dan cita yang kita bangun bersama. Aku memang masih mencintaimu. Aku tidak bisa begitu saja menghapusmu dari hatiku. Namun yang berbeda sekarang adalah aku mencintaimu dalam diamku. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk seperti itu. Aku akan menitipkan rinduku disela-sela doaku. Aku mendoakanmu agar kau bahagia dengan pilihan yang kau buat. Semoga saja kamu tidak menyesalinya. Karena aku pun tidak akan menyesal melepasmu. Karena bagiku penyesalan adalah sebuah kesia-siaan dan keterlambatan. Karena aku akan berjalan maju dan tidak ingin menoleh kebelakang lagi. Aku tentu saja masih menyayangimu dan merindukanmu disetiap waktu. Rasa sayang dan rinduku akan kusimpan sendiri. Aku tidak ingin lagi membaginya denganmu. Aku akan membiarkannya berkembang ataupun mati dengan sendirinya. Apapun itu aku tidak akan melibatkanmu.

Aku berharap kau dapat menemukan wanita yang sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Seorang yang pandai memasak dan keibuan, yang tidak cerewet dan tidak pula banyak protes akan sesuatu, yang menurut apa yang kau katakan dan tidak suka menentang, yang bisa membahagiakanmu dan anak-anakmu kelak, yang pandai mengurus pekerjaan rumah tangga bukan yang tidak becus sepertiku. Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu kelak. Aku disini dengan rasaku dan cita-cita yang pernah kita bangun bersama akan berbahagia untukmu. Aku akan menguburnya dan membiarkannya mati. Rasa cinta ini biar ku bakar saja. Berbahagialah sayang. 


Minggu, 08 Maret 2015

Perpisahan


Yang menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah proses menjadikan sesuatu yang sudah biasa menjadi tidak biasa.

Ketika terbiasa bersama dengan sesuatu namun pada saatnya nanti kita menjadi tidak terbiasa. Terbiasa bersamamu hingga suatu saat keadaan memisahkannya. Siapa yang harus disalahkan? Keadaan? Perpisahan? Aku? Kamu? Tidak ada yang salah disini, hanya saja takdir tidak menuliskan kita bersama selamanya.
Apapun yang terjadi, pasti akan selalu berakhir. Dan jika sesuatu yang baik harus berakhir, percayalah bahwa yang lebih baik akan dimulai.
Tapi pada kenyataannya ini sulit. Tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Kenapa harus berakhir secepat ini. Tidak bolehkah ini bertahan sedikit lebih lama. Agar bisa ku buat banyak-banyak kenangan bersamamu. Akan ku simpan kenangan-kenangan itu di dalam kotak memoriku. Sehingga walaupun waktu berlalu begitu lamanya, aku masih bisa dengan baik mengingatmu.

Perpisahan menggoreskan jarak antara kita. Jarak yang cukup besar untuk membuat kita saling melupakan namun menyadarkan kita...



PS: Tulisan ini saya temukan di buku diary saya kira-kira 3 tahun yang lalu