Pages

Jumat, 22 Mei 2015

Teruntuk kamu yang pernah mencoba mencintai saya

Saya memohon maaf setulusnya jika saya pernah melukaimu dengan begitu besar. Setulus hatipun saya berharap agar kamu melupakannya pula tidak hanya memaafkannya. Rasa saya masih sama terhadapmu. Tapi mungkin km sudah tidak lagi seperti itu. Saya sangat berharap kamu bisa bahagia. Dengan wanita yg mungkin saja sedang dekat denganmu. Saya dengar namanya Marisa ya? Pasti dia memiliki sifat yang lebih "wanita" dibanding saya yang kekanak-kanakan. Sebelumnya saya selalu percaya kita pasti bisa kembali bersama seperti dulu. Namun saya sekarang pun tidak bisa mempercayai keyakinan dan firasat saya sendiri. Karena saya mendengarmu sudah bisa tanpa saya.

Walaupun hati saya hancur saat mengetahuinya. Mungkin ini juga alasan mengapa kamu menghilangkan jejak-jejak saya dan kamu di media sosial. Karena mungkin dia akan menjauhimu jika mengetahuinya. Mungkin keinginanmu untuk melupakan saya begitu besar. Saya hancur disini. Untuk tersenyum pun saya tidak bergairah. Saya merasa begitu menyedihkan karena masih saja terjebak dengan rasa yang tak berbalas ini. Maafkan saya masih mencintaimu. Kau hanya perlu tidak peduli kepada saya. Agar rasa cinta saya ini tidak memberatkanmu.

Begini rasanya merindukan seseorang yang tidak lagi merindukan saya.  Saya sangat ingin menyapamu. Bercanda tawa seperti dulu. Saling berbagi cerita. Saya rindu kehangatan pembicaraan kita. Sekarang saya hanya bisa menahannya. Saya hanya bisa berdiam dan tersiksa dengan sesaknya rindu. Karena mungkin kamu yang sudah tidak lagi merindukan dan peduli dengan saya. sangat ingin saya menyapamu. Berharap kita bisa seperti dulu. Tapi hal itu sekarang lebih dari mustahil. Bagaimana menuntaskan perasaan ini? Saya sudh tidak berdaya lagi menghadapinya. Maybe I love you too much


Kamis, 21 Mei 2015

blue morning

Selamat pagi
Pagi ini terasa begitu kelabu. Aroma menyan, isakan tangis, keranda dan rngkaian bunga. Rasanya begitu familiar. Seperti saat aku pernah merasakan kehilangan ini. Seberapapun saya membenci suasana ini. Tapi saat seperti inilah menjadi pengingat yang baik bahwa hidup ini pun pasti berujung kembali padaNya. Kematian begitu dekat. Hanya saja manusia terlalu pelupa untuk mengingatnya. Begitu pula saya.
Namun ironisnya mengapa kesedihan ini terasa begitu berlipat. Tidak hanya pagi yang kelabu. Namun juga hati saya yang begitu kronis.
Mungkin memang benar bahwa dicintai adalah sebuah angan-angan. Saya tidak pernah merasa dicintai dengan begitu besar oleh seorang lelaki kecuali ayah saya. Namun seakan kau hadir untuk mengisi lubang itu.  tetapi ternyata itu hanyalah angan yang terlalu indah jika bertahan lebih lama.
Pagi ini saya merindukan kehadiran kalian. Ayah dan kamu. Mungkin ayah tidak sempat mengenalmu. mungkin memang semesta menginginkan saya menajadi wanita yang lebih kuat. Lebih terbiasa menghadapi  kehilangan. Kehilangan orang-orang yang saya cintai dengan begitu dalam.
Tapi apalah daya saya. Mencintai lelaki yang  tidak mencintai saya. Mencintai lelaki yang selalu saja membuat saya terluka. Apalah daya saya. Jika saja jatuh cinta bisa memilih. Saya akan memilih cinta yang selalu mau memaafkan dan kembali. Cinta yang saling memaklumi

Selasa, 19 Mei 2015

Hah~!

Mungkin memang mudah, ketika kita patah hati orang-orang disekitarmu berkata "Sudahlah, buat apa kau terus menerus memikirkan dia yang tidak memikirkanmu" , "Move on mi!" , "kamu pasti bisa dapat yang lebih baik dari dia. percayalah" , "Berhenti berharap, dia sudah tidak mencintaimu lagi" , dan lain lain. Tapi seberapapun sering aku mendengar kalimat-kalimat seperti itu aku semakin budek dibuatnya. Entahlah. Sudah terlalu banyak sakit yang dia berikan, namun mengapa aku selalu memaafkannya dan hanya mengingat saat-saat aku merasa dicintainya. Mungkin  memang benar aku terlalu lemah sebagai wanita. Tapi apalah dayaku ketika ku rasa hanya dia yang mampu membuat hari-hariku ceria seperti sedia kala. Ini bukan hanyalah tentang mindset yang mereka anggap berasal dari diriku sendiri. Tapi inilah sebenar-benarnya yang ku rasakan. 

Memang pada kenyataannya dia sudah meninggalkanku, membuangku, dan bahkan tidak peduli lagi akan keberadaanku. Aku selalu percaya dia akan kembali padaku lagi suatu saat nanti. Tapi entah kapan. Entah disaat aku masih mencintainya atau saat aku sudah bersama orang lain. Karena aku pun tidak ingin terus menerus menyiksa diriku sendiri. Tapi cinta yang ku punya untuknya justru membuatku mati karenannya. Aku tidak bisa memaksakannya ketika dia tidak lagi ingin mencintaiku. Karena sebenar-benarnya cinta dia akan kembali pulang. Justru aku takut ternyata cinta yang dia miliki bukanlah sebenar-benarnya. Saat-saat seperti inilah aku harus memadamkan cinta ini. Karena sesekali cinta juga bisa membunuhku. Aku bahkan mengasihani diriku sendiri yang terus saja membiarkanmu tinggal di hatiku. Aku pun belajar cinta tidak selalu membawa kebahagiaan tapi juga luka yang teramat sangat.

Jangan menungguku menjadi sempurna dimatamu. Karena beginilah aku adanya yang kau rasa tak pantas lagi kau pertahankan. Maka carilah dia yang memang pantas kau kenalkan sebagai calon istrimu kelak :) :) :) 

Minggu, 26 April 2015

Resiko mencintaimu

Cinta bukan siapa yang lebih cinta tapi siapa yang lebih ingin untuk mempertahankan.

Mungkin dulu aku telah melakukan banyak kesalahan dalam hubungan yang kita jalani. Semakin aku mencoba mencari rasa aman darimu semakin aku berakhir terluka. Aku tau aku disini masih berproses dalam mendewasakan diri. Im currently 20 y.o you know. Dimana setiap orang pasti memiliki sisi ketidakdewasaannya masing-masing. Begitu pula aku dan kamu. Masing-masing dari kita mempunyai itu. Namun sisi yang kamu miliki tidak lah sebesar yang aku punya. Jadi dalam perjalanan ini pun aku lebih mendominasinya dengan sisi ketidakdewasaanku.

Tidak ada cinta yang begitu mudah dihapuskan. Tidak ada rasa sayang yang begitu saja hilang. Jika terjadi seperti itu mungkin itu bukanlah rasa cinta dan sayang yang sesungguhnya. Aku begitu yakin sedang mencintai dan menyayangimu dengan begitu besar. Aku selalu mengangankan jika suatu hari nanti kau benar menjadi ayah dari anak-anak yang ku lahirkan. Sedangkan aku menjadi ibu dari anak-anakmu. Menjadi wanita nomor dua setelah ibumu dalam hidupmu yang selalu membuatkan sarapan setiap pagi sebelum kau pergi bekerja. Selalu ku angankan hal itu, dimana kita berada dalam satu atap dengan rasa aman karena saling memiliki dalam kehalalan. Aku ingin menjadi wanita yang setiap pagi membangunkanmu agar tidak terlambat sholat subuh. Membangunkanmu dengan manis mungkin mengelus rambutmu atau memberi kecupan pagi hari. Dan hal indah lainnya yang terlalu banyak jika ku ungkapkan. Ah aku rasa hal itu begitu dekat untuk menjadi nyata ketika kau ada bersamaku. Namun sekarang sudah tidak lagi seperti itu.

Ada rasa nyaman ketika bersamamu. Tentang kita yang berbagi mimpi dan angan. Kita yang berdebat akan sesuatu. Hingga dalam pertengkaran pun aku masih merasa nyaman ketika bisa berbicara denganmu. Aku dulu pun berpikir asal bersamamu aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena aku akan selalu kembali padamu dan kamu pun akan menjadi satu-satunya yang ada di sisiku ketika seluruh dunia membenciku. Hingga akhirnya aku pun kehilanganmu.

Rasanya aku sudah tidak pantas lagi mengucap maaf. Karena begitu banyak luka yang ku berikan padamu tanpa aku sadari. Begitu besar keegoisanku yang hingga akhirnya membuatmu lelah setengah mati dan pergi. Hingga menghapus rasa cinta dan sayang yang kau miliki untukku. Tidak perlu ku ungkapkan lagi rasa sesal yang tertumpuk disini. Aku rasa kau memahaminya dengan baik. Ketika aku mengingkari janjiku satu daun gugur dari pohon kepercayaanmu. Dan sudah tak bisa ku hitung lagi berapa daun yang telah gugur, mungkin sekarang pohon itu sudah hampir mati karena tidak lagi memiliki daun untuk berfotosintesis. Aku terlambat memberinya pupuk. Seharusnya aku memupuknya dengan banyak maaf. Sehingga pohon itu masih bisa mendapatkan nutrisi dan mungkin menumbuhkan daun baru. Tapi ini sudah terlalu terlambat.  Aku pun terluka karena telah melukaimu.
Awalnya aku ingin memperbaiki semuanya. Pelan tapi pasti, aku ingin mengawalinya lagi dengan sebagai temanmu. Aku ingin memperbaiki apa yang retak diantara kita. Namun semakin ingin aku memperbaiki semuanya semakin aku terluka dengan pernyataanmu yang ingin menyudahi semuanya denganku. Kamu yang sudah cukup lelah dengan wanita sepertiku dan sudah tidak ingin lagi berurusan denganku. Berkali-kali kau membuangku ketika aku ingin mencoba kembali dekat denganmu. Aku pun sudah menelanjangi harga diriku dan membuang semua  gengsiku. Aku mempertaruhkan semuanya. Hanya untuk satu yang aku sayang. Kamu.

Aku tau kau tidak lagi memiliki banyak waktu seperti dulu karena pekerjaan barumu. Aku tau benar. Aku ingin kita berkomitmen untuk membagi waktu kita. Menyempatkan diri untuk saling berbagi suka cita seperti dulu. Aku ingin menjalaninya walaupun sebagai temanmu. Dimana disini aku ingin lebih banyak mengalah padamu. Aku ingin lebih menjadi wanita dimatamu. Hingga suatu saat nanti ketika kita sama-sama siap, barulah kita akan menjalin hubungan lagi. Dimana disini kita sudah mengenal dengan sangat baik. Dan tidak ada lagi drama diantara kita. Tapi kau sudah menolaknya dengan sangat yakin. Karena mungkin aku yang sudah tidak lagi memenuhi kriteriamu sebagai wanita yang mendampingimu. Kau tau, kau selalu menjadi lelaki yang memenuhi kriteriaku untuk menjadi suamiku. Karena kamu yang selalu memberiku rasa nyaman, sehingga aku tidak ingin lagi berpindah ke tempat lain. Karena aku akan selalu memaklumi semua kekuranganmu. Maka dari itu aku tidak memiliki kriteria khusus sebagai pendampingku. Denganmu, berdua saja. Cukup.
Kau tau, inilah resiko mencintaimu. Berakhir bahagia atau terluka. Dan aku mengambil resiko itu terluka karena aku terlalu mencintaimu. Aku akan selalu berdoa semoga kita bisa berdua dengan dia yang tepat adanya.

                I love you too much




MRD